PEMBELAJARAN (LESSON LEARNED) COVID-19 DARI PRESPEKTIF MANAJEMEN RISIKO

Elsye As Safira, SKM, MKKK, MSc, CIH, ERMCP

Mariena Syamsu Umar, ST, MSc, CIH


PENDAHULUAN

Topik ini dipresentasikan pada the 5th ANOH Conference in conjunction with the 7th IIHA Conference yang diselenggarakan di Bali pada tanggal 21-23 September lalu.


Kasus pertama COVID-19 di Indonesia terdeteksi pada 2 Maret 2020. Pemerintah mengumumkan pembatasan sosial pada 15 Maret 2020, menutup semua fasilitas umum besar seperti sekolah, mal, perkantoran dan industri yang tidak penting, dalam upaya untuk mengelola menyebar lebih jauh ke seluruh negeri. Pada tahun 2006 dokumen AIHA tentang pandemi merangkum tiga langkah utama untuk merespon, yaitu menjaga jarak sosial, memanfaatkan konferensi video dan menghindari lingkungan dengan ventilasi buruk. Empat belas tahun kemudian prinsip-prinsip pengendalian yang sama segera diterapkan.


Telah terjadi evolusi program manajemen risiko yang diterapkan di berbagai industri di Indonesia. Pada awalnya ada ketidakpastian dalam jalur infeksi, menyebabkan reaksi berlebihan dari metode pengendalian disinfeksi yang menimbulkan risiko lebih lanjut terhadap kesehatan manusia. Sebagai contoh:

• orang sebagai objek disinfeksi

• tempat penyemprotan (chamber) disinfektan untuk orang

• penggunaan sinar UV oleh personel yang tidak kompeten


Pada saat yang sama, metode pengujian dan penelusuran (tracking) yang tidak pasti serta akses yang terbatas terhadap fasilitas COVID-19, baik dari segi kuantitas maupun keterjangkauan. Hal ini menyebabkan identifikasi bahaya dan risiko yang segera tidak memadai, sehingga memungkinkan penyebaran virus yang lebih cepat di masyarakat maupun di tempat kerja.


Beberapa industri esensial, seperti perusahaan hulu migas, juga menerapkan program karantina sebelum memasukkan pekerja ke tempat kerja. Program karantina bervariasi berdasarkan penerimaan risiko dan pemahaman risiko masing-masing perusahaan pada saat itu, dari karantina mandiri hingga karantina terkontrol, mulai dari 3 hari hingga 14 hari.


Industri lain seperti manufaktur menerapkan skeleton crew manning di tempat kerja dan bekerja dari rumah sebagai pilihan untuk posisi pendukung. Manajemen dan pengendalian risiko ini direncanakan dan dilaksanakan dengan cepat, karena pemerintah dan perusahaan internal memberlakukan berbagai batasan, peraturan, dan pedoman.


Manajemen Risiko

Prinsip yang sama berlaku saat mengelola risiko COVID-19 di tempat kerja. Mengacu pada proses manajemen risiko ISO 31000, tujuan utama manajemen risiko adalah untuk memungkinkan organisasi membuat keputusan berbasis risiko yang terinformasi dengan baik.



Gambar 1. Proses Manajemen Risiko ISO 31000





Gambar 2. Hierarki Pengendalian Risiko



Menetapkan konteks: Konteks organisasi harus dipahami sebelum berbagai risiko dapat diidentifikasi. Termasuk memahami status industri esensial atau non-esensial, kebijakan dan pembatasan pemerintah, pembatasan logistik dan rantai pasokan, karena pembatasan perjalanan di seluruh dunia juga diberlakukan.

Identifikasi risiko: Proses identifikasi risiko memungkinkan organisasi untuk mengidentifikasi asetnya, sumber risiko, kejadian risiko, tindakan dan konsekuensi yang ada. Dapat kita amati selama pandemi COVID-19, pemahaman, pengetahuan, dan bukti ilmiah tentang risiko berkembang pesat, oleh karena itu dalam proses manajemen risiko, langkah-langkah tersebut harus diulang.

Analisis risiko: Berdasarkan tingkat risiko yang ditentukan setelah analisis risiko, organisasi dapat menentukan apakah risiko tersebut dapat diterima atau tidak. Dengan demikian, jika risiko ternyata tidak dapat diterima, organisasi dapat mengambil tindakan untuk memodifikasi risiko agar sesuai dengan tingkat risiko yang dapat diterima.

Evaluasi risiko: Langkah ini menawarkan organisasi kesempatan untuk memiliki mekanisme yang membantu mereka menentukan peringkat kepentingan relatif dari setiap risiko, sehingga prioritas penanganan dapat ditetapkan.

Perlakuan / Pengendalian Risiko: Manajemen risiko yang tepat membutuhkan keputusan yang rasional dan terinformasi tentang perlakuan risiko. Kami mengamati banyak industri akan mengacu pada pedoman yang ditetapkan saat ini dan praktik terbaik (best practice).

Komunikasi dan konsultasi: Manajemen risiko yang tepat memerlukan komunikasi dan konsultasi yang terstruktur dan berkelanjutan dengan mereka yang terpengaruh oleh operasi organisasi. Komunikasi berusaha untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang risiko dan cara untuk menanggapinya, sedangkan konsultasi untuk memperoleh umpan balik dan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan. Konsultasi terlihat dilakukan melalui berbagai pakar/ahli yang relevan, serta benchmarking ke industri sejenis, baik sumber internal/eksternal organisasi.

Pencatatan dan pelaporan: Langkah lain dari proses manajemen risiko berdasarkan ISO 31000 adalah pencatatan dan pelaporan, yaitu hasil dari proses manajemen risiko harus didokumentasikan dan dilaporkan melalui mekanisme yang sesuai. Pencatatan dan pelaporan adalah untuk menyediakan dasar dan informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan yang tepat.

Memantau dan meninjau: Karena lingkungan eksternal dan internal dapat berubah secara konstan, tujuan dari langkah ini adalah untuk membantu organisasi memastikan dan meningkatkan kualitas dan efektivitas proses manajemen risiko.

Hirarki Pengendalian

Kita harus mempertimbangkan tindakan pengendalian dari yang paling efektif sebelum beralih kepada opsi tindakan pengendalian berikutnya. Penting sekali untuk memahami kekuatan dan keterbatasan masing-masing tindakan pengendalian yang dipilih untuk diimplementasikan.


Penerapan Manajemen Risiko COVID-19

Peninjauan dan pengamatan kami terhadap penerapan manajemen risiko COVID-19 dilakukan terhadap 7 perusahaan yang beroperasi selama masa pandemi selama periode 2020-2022, yang terdiri dari 5 perusahaan hulu migas, 1 perusahaan farmasi dan 1 perusahaan kimia.


Penerapan manajemen risiko mempertimbangkan:

• persyaratan peraturan,

• kebijakan internal perusahaan, dan

• praktik/pedoman terbaik

Tinjauan ini dilakukan sebagai bagian dari Health Risk Assessment Program, dimana manajemen dan implementasi risiko COVID-19 merupakan bagian dari risk assessment dan evaluasi pengendalian.

Kami melakukan pendekatan kualitatif yang terdiri dari observasi, wawancara, tinjauan data sekunder, tinjauan peraturan dan literatur.


Temuan dalam Implementasi

Ada beberapa temuan umum, berdasarkan pengamatan kami:

  • Fasilitas cuci tangan dan disinfeksi lainnya (misalnya hand sanitizer) Terdapat tambahan fasilitas cuci tangan di tempat kerja, namun terkadang fasilitas tersebut tidak lengkap, yaitu tidak ada air mengalir, sabun cuci tangan dan alat pengering tangan seperti handuk atau tisu.

  • Efektivitas pemeriksaan suhu dan kalibrasi peralatan Ada beberapa pendekatan yang berbeda saat memeriksa suhu di tempat kerja, yang paling umum adalah menggunakan pistol suhu ke bagian tangan. Dari beberapa percakapan dengan petugas keamanan yang biasa melakukan pengukuran, terdapat perbedaan persepsi mengenai tingkat suhu yang diperbolehkan masuk ke tempat kerja. Kalibrasi peralatan juga menjadi masalah, karena sebagian besar tempat kerja tidak mengkalibrasi termometer, yang menyebabkan pembacaan yang salah.

  • Standar fasilitas pengujian COVID-19 dan efektivitas pelacakan & penelusuran (tracing & tracking) Pada awalnya fasilitas pengujian COVID-19 terbatas sehingga hasilnya tersedia lebih dari 24 jam. Kalaupun fasilitasnya tersedia tapi harganya mahal. Ini merupakan tantangan dalam mengidentifikasi dan memastikan mitigasi risiko.

  • Supervisi, Evaluasi Program, dan Konsultasi Program Dalam pelaksanaan program manajemen risiko tersebut, terlihat sebagian besar pelaksanaannya tidak terawasi secara efektif, dan selanjutnya dievaluasi. Evaluasi program biasanya dilakukan ketika terjadi wabah di tempat kerja (respons reaktif) daripada respons proaktif, hal ini mungkin disebabkan oleh persepsi bahwa manajemen risiko COVID-19 adalah pengaturan sementara dan tidak terintegrasi dalam keseluruhan sistem manajemen K3.

  • Interaksi dengan anggota masyarakat Selama masa pandemi pekerja dikarantina sebelum memasuki tempat kerja, dan harus mematuhi program manajemen risiko COVID-19 di area kerja, namun pada akhirnya mereka akan berinteraksi seperti biasa dengan anggota masyarakat lainnya misalnya menggunakan transportasi umum, makan difasilitas umum.

  • Karantina memasuki tempat kerja dan Kebijakan kembali bekerja (return to work policy) Program karantina yang ketat ternyata tidak menghilangkan potensi penularan COVID-19 dari interaksi panitia karantina di luar jam kerja. Selain itu, terdapat inkonsistensi penerapan kebijakan kembali bekerja.

  • Penggunaan masker, APD untuk tenaga kesehatan, APD untuk bahaya di tempat kerja Selama masa pandemi, ketika masker N-95 tidak tersedia/sulit diperoleh. Masyarakat umum banyak yang menggunakan masker dari kain dan masker bedah, dan sempat menjadi perdebatan tentang efektifitasnya. Walaupun tidak sempurna atau ideal (misalnya masih memungkinkan penyebaran virus, dan tidak setara dengan respirator yang disetujui NIOSH), namum masker kain masih tetap dianggap berguna dalam pengurangan sumber dan pada tingkat lebih rendah, untuk perlindungan reseptor bila digunakan oleh masyarakat umum. Namun, persyaratan APD untuk petugas kesehatan, terutama swabber direkomendasikan ke level 3. Di sisi lain, karena pekerja menjadi terbiasa memakai masker, terlihat bahwa mereka kurang memperhatikan perlindungan pernapasan lainnya untuk bahaya lain di tempat kerja.

  • Kontrol ventilasi, filter, dan desinfeksi dalam ruangan Selama pandemi ASHRAE mengeluarkan rekomendasi untuk mengurangi aerosol infeksius di udara melalui ventilasi, filtrasi, dan pembersihan udara. Berdasarkan pengamatan kami di tempat kerja serta fasilitas karantina dan isolasi, ditinjau bahwa program pemeliharaan yang tepat pada ventilasi / AC dalam ruangan tidak ditingkatkan. Sebagai contoh, kami mengamati bahwa banyak AC tidak direncanakan untuk perawatan rutin, beberapa ventilasi pembuangan tidak efektif (tidak berfungsi, kinerja menurun), filter ventilasi tidak memenuhi standar (karena tidak tersedianya sumber daya).


Tabel 1. Contoh Evaluasi Program Karantina

Apa yang berjalan dengan baik? (What went well)

  • Pedoman & Peraturan Tersedianya pedoman dari badan internasional seperti WHO dan peraturan pemerintah. Meskipun kemudian diketahui mungkin ada beberapa hal yang perlu perbaikan juga.

  • Kepatuhan Pada situasi di mana orang memiliki pemahaman yang terbatas tentang bagaimana mengendalikan risiko, tetapi mereka menyaksikan betapa serius konsekuensinya, mereka cenderung lebih patuh.

  • Asosiasi Profesi Higiene IndustrI Saran dari asosiasi profesi seperti IIHA diperlukan karena semakin banyak informasi yang diperoleh dan semakin baik pemahaman tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihentikan. IIHA mengeluarkan 2 rekomendasi, satu tentang penggunaan disinfektan untuk manusia dan yang kedua tentang pentingnya sistem ventilasi. IIHA juga memberikan beberapa webinar tentang penggunaan disinfektan, perlindungan pernapasan, dan sistem ventilasi terkait dengan langkah-langkah pengendalian risiko COVID-19.


Area untuk Perbaikan (Areas for improvement)

  • Program Monitor & Evaluasi: Jangka Pendek vs Jangka Panjang Program manajemen risiko COVID-19, pada awalnya dilaksanakan seolah-olah itu adalah tindakan sementara / terbatas waktu, dan oleh karena itu di sebagian besar perusahaan tidak dievaluasi sebagai bagian dari sistem manajemen HSE secara keseluruhan. Tindakan pengendalian harus dievaluasi untuk mengetahui efektivitasnya, dikomunikasikan dan dikonsultasikan kepada pekerja. Dengan demikian, perbaikan berkesinambungan dapat dilakukan.

  • Memahami Risiko: penilaian risiko menyeluruh & berkala

  • Mencari Pembaruan Informasi: mencari pembaruan atau perkembangan informasi terbaru melalui sumber-sumber terpercaya dan memahami keterbatasannya. Ahli higiene industri perlu mengikuti penelitian terbaru yang menunjukkan bagaimana agen biologis berasal, berkembang biak, dan ditularkan ke manusia. Informasi ini harus diperoleh melalui sumber-sumber yang diverifikasi dan ditinjau untuk keterbatasannya, seperti halnya dengan penelitian ilmiah lainnya.

  • Manajemen Perubahan: menerapkan perubahan secara efektif Satu-satunya hal yang konstan adalah perubahan. Dalam perspektif manajemen risiko, perubahan ini harus dikelola untuk memastikan setiap risiko baru / yang muncul telah dikendalikan secara memadai. Komunikasi dan edukasi juga merupakan bagian penting ketika menerapkan perubahan teknik dan/atau administratif.

  • Kompetensi: mendidik semua personel yang relevan, memeriksa pemahaman, serta berkonsultasi dengan profesional atau tenaga ahli.

  • Komunikasi: melibatkan semua tingkatan pekerja, misalnya mengkomunikasikan tentang perubahan proses/prosedur, berbagi pembelajaran (lesson learned) yang didapat.

  • Antisipasi Risiko Tambahan: misalnya MERP, pajanan bahan kimia, psikososial, makanan kotak (sebelumnya buffet), masker medis vs pelindung pernapasan bahan kimia. Dengan perubahan cara kita bekerja dan pengenalan tindakan pengendalian lainnya, kita harus selalu mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko yang muncul.


Rekomendasi (Way forward)

  • Pandemi berpotensi akan tetap menjadi tantangan bagi Higiene Industri Potensi virus influenza seperti H5N1, coronavirus seperti SARS-CoV-2, dan virus lain untuk bermutasi dan menjadi lebih patogen atau mengembangkan kemampuan untuk menginfeksi manusia dan menjadi efisien dalam penularan dari manusia ke manusia akan tetap menjadi tantangan bagi ahli higiene industri di masa depan.

  • Ahli higiene industri harus lebih terlihat (visible) dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terkait K3, misalnya dalam perencanaan kesinambungan bisnis (business continuiity plan), rekomendasi praktis dan berbasis sains untuk pengendalian di tempat kerja.

  • Ahli higiene industri dapat memainkan peran penting dengan bekerja sama dengan disiplin lain seperti para insinyur, tenaga kesehatan, dan kesehatan masyarakat.

  • Ahli higiene industri harus meningkatkan pemahaman tentang pajanan dan risiko yang terkait dengan agen pandemi, serta pengendalian pajanan melalui hierarki pengendalian.

  • Pandemi mungkin mengharuskan individu untuk bekerja di lingkungan baru atau yang dimodifikasi; namun, pendekatan manajemen risiko yang sama harus diterapkan.

  • IH Society perlu berkontribusi pada pedoman berbasis sains dan meninjau pembelajaran (lesson learned) yang diperoleh dari industri.


Referensi:

  • Permenkes No. HK.01.07 / MENKES /328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi

  • ISO 31001: 2018 Risk Management – GuidelineS

  • ISO 45005: 2020 Occupational health and safety management — General guidelines for safe working during the COVID-19 pandemic

  • Guidance for Businesses & Employers; CDC; Jan.4, 2021. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019- ncov/community/guidance-business-response.html.

  • The Role of Industrial Hygienist on a Pandemic 2nd edition, AIHA 2021

Pembelajaran Manajemen Risiko COVID-19
.pdf
Download PDF • 351KB





Featured Posts
Recent Posts
Archive